TOP

Study Cases Low Value Content di Mata Google Search

Saat ini untuk membuat artikel sangat mudah layaknya membalik telapak tangan. Bagaimana tidak, kita tinggal tulis promt sederhana “Tuliskan saya artikel dengan kata kunci Cara Membuat Website dalam 700 Kata” maka 5 detik kemudian artikel-pun jadi.

Tapi masalahnya, apakah artikel itu berkualitas dan berguna bagi pembaca? Tentu tidak.

Karena masifnya pembuatan artikel dengan AI ini, Google secara aktif membatasi Crawling Budget mereka supaya server tidak dipenuhi konten sampah semacam ini.

Saya sebut sampah karena memang sampah. Atau mau dengan bahasa lebih formal lagi? Konten yang seperti ini dinamakan low value content alias gak ada kualitasnya.

Lantas, bagaimana cara mendeteksi kualitas dari artikel yang kita tulis dengan atau tanpa AI?

Konten Berkualitas Jelek Hasil Nge-Promt Ngasal Pakai AI

Ilustrasi Bikin Artikel Asal Ngepromt Pakai Ai
Ilustrasi Bikin Artikel Asal Ngepromt Pakai Ai

Kualitas artikel kita tergantung oleh seberapa sering kita membaca. Makin sering baca, makin banyak pula perbendaharan kata yang kita pahami. Makin luas pula gaya penulisan yang bisa diterapkan.

Hubungannya dengan tulisan AI apa?

Nah, tulisan AI ini selalu punya ciri khas yang muncul. Contohnya, kalimat “bukan hanya sekadar uang tetapi juga kesehatan”, “bukan cuma X melainkan Y.”, Not Only, But Also. Versi panjangnya begini:

Untuk memenuhi sinyal E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) dari Google, kotak penulis (author box) di akhir artikel bukan sekadar hiasan.

Kami tidak hanya merancang tampilan web yang elegan, tetapi juga merekayasa performa sistem dan strategi pencarian agar setiap halaman bekerja nyata mendorong pertumbuhan bisnis Anda.”

Atau penggunaan istilah aneh dan tidak enak dibaca, seperti:

“Di balik setiap tantangan yang tampak rumit, selalu ada peluang tersembunyi yang siap untuk dimanfaatkan.”

“Menavigasi kompleksitas dunia teknologi membutuhkan panduan yang jelas dan terarah.”

Tanda strip panjang (—) juga termasuk.

Iya, tidak enak dibaca maupun didengar. Saya bilang tidak enak didengar karena banyak sekali influencer yang skripnya dibuat full AI tanpa sentuhan manusia.

Jika kamu memang sering baca tulisan manusia, hanya kurang dari 10 detik akan paham sebuah konten dibuat oleh AI atau ditulis oleh manusia.

Tulisan seperti inilah yang dihilangkan dari index mesin pencari, khususnya Google.

Studi Kasus dari Sebuah Website Properti yang Tulisannya Full Promt AI

Blog Groperti Com
Blog Groperti Com

Saya pernah menulis di website Groperti.com, hanya iseng-iseng saja. Pemilik website tersebut ternyata tidak paham dengan SEO sama-sekali, bisa dibilang levelnya masih anak SD.

Buktinya apa?

90% artikel dibuat dengan satu promt yang sama. Kalau kalian meliat kategori blog di Groperti, maka hampir mustahil kamu betah membaca dua atau bahkan satu artikel full.

Memang sih promt yang digunakan cukup panjang dan kompleks tapi semua penulis menggunakan promt yang sama. Mulai dari struktur, gaya bahasa, tata letak, tabel, sampai kesimpulan semuanya identik.

Benar-benar jelek. Kalau saya disuruh membaca artikel di sana, itu seperti sebuah hukuman.

Begitulah hasilnya kalau kita tidak paham SEO, tidak tau cara menulis yang user friendly juga tidak paham cara nge-promt yang elegan.

Dengan kualitas artikel seperti itu maka Google akan menghapusnya dari mesin pencari, artikel tetap terindex tapi kalau kita mencarinya dengan kata kunci hasilnya tidak muncul.

Misalnya Google sudah tau blog tersebut membuat artikel tanggal 15 Agustus, artikel bisa muncul ketika kita ketikan judul artikel, tapi dalam beberapa minggu, artikel tersebut hilang dari pencarian.

Sekalipun hanya gambarnya juga tidak ditemukan.

Satu nilai plus dari Groperti adalah mereka punya foto baru yang tidak dimiliki oleh Google maupun website lain. Jadi mereka masih punya nilai tambah yang memang disukai oleh algoritma.

Screenshot 2026 08 15 202814
Top pages / top keyword groperti

Kita coba lihat dari gambar di atas, walaupun ada kata rumah tapi tidak ada hubungannya dengan properti, secacara niche ini jelek sebetulnya.

Tapi semua keyword di ranking satu itu datang dari satu orang, siapa lagi kalau bukan saya meuhehe…

Saya memang malas riset keyword, toh gak dibayar pula. Jangan mengharap sesuatu yang bagus bisa datang dari hal yang murah. Berkualitas → Murah → Cepat, idak mungkin tiga elemen ini bisa bersatu.

Btw, itu namanya konsep iron triangle.

Konsepnya tuh begini, jika kamu mencari yang murah dan bagus, maka prosesnya tidak akan cepat. Sebaliknya, jika mencari yang cepat dan bagus, biayanya pasti mahal. Mau murah dan cepat pasti hasilnya jelek.

Website dengan Kualitas Konten Rendah Akan Ditolak oleh AdSense

Goolge AdSense menolak pendaftaran blog yang kontennya tidak berkualitas meskipun jumlah artikelnya ratusan.

Nah, cara paling mudah mengetahui konten ini berkualitas atau tidak, tinggal daftarkan saja situs kamu ke AdSense. Kalau ditolak dengan alaasn Low Value Content, artinya websitemu jelek.

Audit lagi artikelnya, bikin yang lebih bagus, pastikan penulisnya kredibel.

Kalau dulu blogger bisa submit berulang kali sampai diterima AdSense meski secara kualitas tidak ada yang diubah dari blognya. Sekarang tidak bisa, tetap akan ditolak dengan alasan yang sama.

Oke, tampaknya kita sudah cukup panjang dan membosankan untuk membahas hal ‘agak teknis’ seperti ini terlalu lama.

Jadi mari kita akhiri artikel ini dengan satu kesimpulan.

Kalau mau membuat tulisan yang bagus maka sering-seringlah membaca. Dengan membaca, kita punya parameter untuk menentukan atau membedakan sebuah tulisan itu layak atau tidak dipublikasi.

Gunakan AI sebagai alat yang membantu kita, jangan jadikan dia pengganti dari kita.

Terakhir diperbarui: 29 August 2026
Share Article:

Kesdik Bayu

Leave a Comment

© Copyright 2026 Optimora. All rights reserved.